Menelusuri Akar Budaya Mengenal Aksara Bima (Aksara Mbojo) yang Terlupakan
Sejarah panjang bangsa Indonesia menyimpan kekayaan intelektual yang luar biasa, salah satunya tercermin melalui keberagaman aksara daerah yang unik. Di wilayah timur nusantara, masyarakat Bima memiliki warisan tulisan kuno yang dikenal sebagai Aksara Mbojo atau Aksara Bima. Upaya Menelusuri Akar sejarah tulisan ini membawa kita kembali pada masa kejayaan kerajaan di Nusa Tenggara.
Aksara Mbojo merupakan sistem tulisan asli yang digunakan oleh masyarakat di wilayah Bima sebelum pengaruh abjad Arab dan Latin mendominasi. Tulisan ini memiliki bentuk yang khas, menyerupai guratan yang dipengaruhi oleh budaya Austronesia serta interaksi dengan kerajaan tetangga seperti Makassar. Dengan Menelusuri Akar linguistiknya, kita dapat melihat betapa tingginya peradaban literasi lokal pada masa lampau.
Secara struktural, aksara ini digunakan untuk mencatat berbagai peristiwa penting, hukum adat, hingga naskah kedokteran tradisional yang sangat berharga. Sayangnya, penggunaan aksara ini mulai memudar seiring masuknya pengaruh agama Islam yang membawa abjad Arab-Melayu atau Aksara Jawi. Proses Menelusuri Akar naskah kuno di museum menunjukkan bahwa transisi budaya ini mengubah pola komunikasi tertulis masyarakat.
Keberadaan Aksara Bima saat ini tergolong sangat langka dan hanya dikuasai oleh segelintir pakar sejarah serta budayawan lokal saja. Banyak generasi muda di Nusa Tenggara Barat yang tidak lagi mengenal bentuk maupun cara membaca tulisan asli leluhur mereka. Melalui langkah Menelusuri Akar identitas ini, kita diingatkan pentingnya konservasi budaya agar warisan ini tidak hilang ditelan zaman.
Upaya revitalisasi kini mulai dilakukan oleh pemerintah daerah dan komunitas peduli budaya untuk memperkenalkan kembali Aksara Mbojo kepada publik. Penggunaan aksara pada papan nama jalan atau gedung perkantoran menjadi salah satu cara efektif untuk meningkatkan kesadaran kolektif. Kegiatan Menelusuri Akar tradisi ini bertujuan agar nilai estetika dan filosofis di balik setiap karakter tetap hidup dan relevan.
Selain berfungsi sebagai alat komunikasi, aksara ini juga merupakan representasi jati diri dan kedaulatan intelektual masyarakat Bima di mata dunia. Keunikan bentuk karakternya mencerminkan cara pandang hidup masyarakat agraris dan maritim yang harmonis dengan alam sekitar. Fokus dalam Menelusuri Akar kearifan lokal ini memberikan landasan moral yang kuat bagi pembangunan karakter bangsa di masa depan.
Dukungan teknologi digital, seperti pembuatan font khusus Aksara Mbojo, diharapkan mampu menarik minat milenial untuk mempelajari warisan leluhur ini lebih dalam. Digitalisasi naskah kuno juga menjadi langkah krusial agar data sejarah tidak rusak akibat faktor cuaca atau kelalaian dalam penyimpanan fisik. Semangat Menelusuri Akar pengetahuan ini harus terus dipupuk melalui kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah daerah setempat.
