Bagi sebagian besar masyarakat Asia Tenggara, durian adalah “Raja Buah” yang memiliki rasa surgawi, namun fenomena Dendam Durian juga nyata adanya dan sering kali sangat ekstrem. Ada kelompok orang yang merasa aroma durian lebih mirip dengan bau limbah atau sampah yang membusuk daripada aroma makanan lezat. Perbedaan persepsi yang sangat tajam ini sering kali menimbulkan perdebatan lucu dalam pergaulan sosial, bahkan hingga muncul aturan pelarangan membawa durian di transportasi umum maupun hotel-hotel berbintang karena aromanya yang dianggap sangat mengganggu bagi sebagian orang.
Secara ilmiah, Kebencian Terhadap Durian ternyata berkaitan erat dengan faktor genetik dan sensitivitas indra penciuman seseorang. Durian mengandung senyawa sulfur aktif yang sangat kuat yang bagi sebagian hidung diterjemahkan sebagai aroma busuk. Penelitian menunjukkan bahwa otak manusia memproses senyawa kimia durian dengan cara yang berbeda-beda; ada yang menangkap aroma karamel dan mentega, namun ada juga yang menangkap aroma gas kimia yang menyengat. Inilah yang menyebabkan reaksi fisik seperti mual atau pusing yang dialami oleh mereka yang memang tidak bisa menoleransi bau buah berduri ini.
Dinamika sosial akibat Dendam Durian sering kali membuat momen makan bersama menjadi canggung jika ada salah satu anggota kelompok yang sangat anti terhadap buah ini. Bagi para pecinta durian, sangat sulit memahami bagaimana rasa yang begitu creamy dan manis bisa dianggap menjijikkan oleh orang lain. Sebaliknya, bagi para pembencinya, berada di dekat orang yang sedang makan durian terasa seperti sebuah siksaan fisik. Hal ini menciptakan semacam pembatas sosial yang unik, di mana durian sering kali menjadi pemecah sekaligus pemersatu dalam sebuah pertemuan keluarga atau teman.
Meski banyak yang memusuhi, popularitas buah ini tetap tidak tergoyahkan, dan industri olahan durian justru semakin berkembang untuk mengatasi masalah Kebencian Terhadap Durian. Produk seperti pancake durian atau es krim durian terkadang lebih mudah diterima oleh mereka yang tidak suka buah aslinya, karena aroma tajamnya sudah sedikit ternetralisir melalui proses pengolahan. Namun bagi sang pembenci sejati, tetap saja ada jejak aroma yang membuat mereka memilih untuk menjauh sejauh mungkin. Uniknya, di beberapa negara barat, durian sering dijadikan tantangan dalam acara televisi karena dianggap sebagai makanan paling ekstrem di dunia.
