Main ke Medan memang selalu seru, apalagi kalau sudah bicara soal kulinernya yang juara dunia. Tapi jujur saja, kenyamanan kita saat berkeliling kota seringkali terusik dengan isu lama yang seolah susah hilang, yaitu Premanisme Jalanan. Rasanya ada yang kurang pas kalau kita mau menikmati estetika kota atau sekadar nongkrong di taman tapi masih dihantui rasa was-was karena adanya pungutan liar atau gangguan dari oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Menciptakan ruang publik yang benar-benar ramah untuk semua orang adalah impian warga Medan agar kota ini tidak hanya dikenal karena ketegasannya, tapi juga karena rasa aman yang ditawarkan bagi siapa saja yang melintas di trotoar maupun pusat keramaian.
Masalah Premanisme Jalanan ini sebenarnya bukan cuma tugas polisi atau aparat keamanan saja, lho. Ini adalah tantangan besar buat kita semua untuk mengubah budaya “pembiaran” menjadi budaya “peduli”. Seringkali kita memilih diam karena takut, padahal ruang publik itu hak milik bersama yang harus dijaga kesuciannya dari tindakan intimidasi. Pemerintah kota perlu lebih serius lagi dalam menata sektor parkir dan pemberdayaan pemuda agar energi mereka tersalurkan ke hal-hal yang lebih produktif ketimbang sekadar menjaga wilayah dengan cara yang kurang elegan. Kalau semua sudut kota sudah terang benderang dan terawasi dengan baik, ruang gerak para pelaku gangguan keamanan ini pasti akan menyempit dengan sendirinya.
Selain penegakan hukum yang tegas, pendekatan sosial juga sangat penting untuk mengikis akar dari Premanisme Jalanan di kota Medan. Banyak dari mereka yang terlibat sebenarnya adalah korban dari kurangnya akses lapangan kerja atau edukasi yang memadai. Jika mereka diberi wadah untuk berkarya—misalnya dalam pengelolaan pariwisata lokal yang resmi atau pelatihan keterampilan—perlahan-lahan wajah jalanan Medan akan berubah menjadi lebih manusiawi. Kita ingin melihat Medan di mana wisatawan bisa berjalan kaki dengan santai di Kesawan tanpa harus bolak-balik merogoh kocek untuk hal yang tidak jelas peruntukannya, sehingga citra positif kota tetap terjaga di mata dunia internasional.
